Belajar Matematika Mandiri, Mengapa Tidak?

Salah satu kelemahan banyak orang tua di Indonesia adalah menyerahkan pendidikan anak kepada lembaga pendidikan tanpa memback-up pendidikan lanjutan di rumah. Kesibukan atau kemalasan (?) telah menjadi penyebab anak harus 100% dikelola oleh lembaga pendidikan tersebut yang nota bene adalah masuk dalam kategori orang lain. Itulah yang banyak terjadi, tak terkecuali pelajaran Matematika.

Orang tua menganggap bahwa menyerahkan pendidikan anak kepada ahlinya adalah tindakan paling bijaksana yang memang seharusnya mereka lakukan. Di satu sisi memang benar, tapi di sisi yang lain, ada kesalahan konsep mendasar yang justru bisa menjadi bumerang.

Matematika Sekolah Dasar, misalnya. Sebenarnya tidak ada konsep yang muluk-muluk di dalamnya. Bahkan, yang ada di dalam kurikulum kebanyakan adalah penerapan matematika dalam hidup sehari-hari. Contoh-contoh dan soal cerita yang ada di dalamnya tidak jauh dari apa yang dialami di sekitar anak-anak. Kalau bukan di rumah, di mana lagi sebagian besar anak menghabiskan hari-harinya? Jadi, sebenarnya orang tua sendiri lah yang paling pantas menjadi guru untuk anaknya dalam pelajaran Matematika tingkat SD.

Bagaimana dengan Matematika SMP, SMA, bahkan Universitas? Masih wajarkah orang tua menjadi guru terbaik juga?

Di tingkat yang lebih tinggi, dalam hal ini setelah SD, apabila orang tua sudah tidak sanggup, maka boleh diserahkan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan di luar rumah. Hal ini sudah di luar kemampuan orang tua, karena memang Matematika mulai SMP dan seterusnya sudah bukan konsumsi sehari-hari yang bisa diajarkan oleh semua orang tua.

Yang perlu digarisbawahi adalah kemampuan dasar matematika (yaitu matematika SD) sebenarnya masih dalam rentang pemahaman perhitungan dan logika dasar yang seharusnya dikuasai semua orang tua karena materi yang termuat adalah materi kehidupan sehari-hari. Pada tahap ini matematika masih bisa masuk ke logika semua orang dewasa. Bagaimanapun, akan lebih baik, dasar matematika ini sudah didapatkan dari rumah sebelum seorang anak mendapatkannya dari sekolah formal.

Orang tua seharusnya tidak salah faham. Memberikan pendidikan dasar matematika secara mandiri bukan berarti orang tua harus mengajarkan cara bagaimana membangun konstruksi jembatan atau merakit pesawat terbang. Orang tua hanya dituntut bisa memberikan dasar logika yang sederhana dan contoh-contohnya bisa ditemukan di sekitar kita.

Apabila hanya memberikan pendidikan dasar saja orang tua sudah angkat tangan, lalu bagaimana orang tua dituntut bisa memberikan pendidikan akhlak dan karakter yang juga termasuk pendidikan paling awal yang harus diberikan kepada seorang anak. Bukankah karakter anak itu seharusnya gambaran dari orang tuanya. Bagaimana kalau cita-cita dan harapan kita tidak tercermin sama sekali dalam diri anak-anak kita?

Mudah atau Sulit: Ini Masalah Sudut Pandang

Saat akan menempuh ujian matematika, sebagian dari kita kadang memanjatkan doa kepada Tuhan dengan cara yang kurang tepat. Kita tidak sedang membicarakan cara berdoanya, tapi content doa yang kita panjatkan. Yang kita minta adalah semoga soal-soal yang keluar nanti adalah soal-soal yang mudah. Bila soal mudah yang kita minta, bayangkan seandainya dikabulkan: semua pesaing bisa mengerjakan, dan saat kita menjadi peserta ujian yang paling tidak siap, maka sudah jelas nasib kita di peringkat berapa.

Doa seperti apa yang seharusnya dipinta? Seharusnya kita berdoa diberi kemudahan dalam mengerjakan semua soal. Dengan berdoa seperti ini, seberapapun sulitnya soal, kalau doa kita dikabulkan, maka kita bisa mengerjakan soal yang sulit pun dengan mudah. Soalnya sama untuk semua peserta, hanya masing-masing peserta yang mensikapi dengan cara yang berbeda terhadap soal yang sama tadi.

Kedua doa di atas bermuara pada kata dasar yang sama: mudah. Kata ini sebenarnya mengandung multi interpretasi. Mudah hanya berlaku bagi mereka yang faham, siap, dan banyak berlatih. Bagi mereka yang tidak atau belum faham, tidak siap, dan jarang berlatih, tentunya kata mudah bisa menjadi sulit., meskipun soal yang dihadapi adalah sama. Sekali lagi, makna kata bisa berubah tergantung sudut pandang yang dipakai.

Bicara tentang sudut pandang, penting untuk ditanamkan kepada setiap siswa, bahwa menjadi mudah atau sulit sesuatu hal, termasuk soal ulangan matematika, adalah tergantung kepada kita juga sebagai pelaku. Kemauan kita untuk menjadikan soal itu menjadi mudah adalah titik awal, bukan soalnya yang memang mudah, akan tetapi persepsi kita yang menjadikan suatu soal menjadi terlihat mudah untuk dikerjakan.
Yang kita pinta adalah kemudahan, bukan soal yang mudah. Ini baru pada tahap berdoa. Tentunya, membicarakan matematika tidak hanya berdoa, tapi harus diiringi dengan berusaha belajar sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.

Matematika Bukan Satu-satunya Ukuran Kecerdasan (3)

Sebaik-baik perkara adalah yang adil dan berada di tempatnya, atau dengan kata lain proporsional. Setiap orang sudah membawa bakat bawaan dari aslinya. Bakat tersebut bisa berkembang atau tidak seiring dengan bagaimana lingkungan menempanya. Bila dikelola dengan baik, ia bisa berkembang. Sebaliknya, bila dibiarkan, ia akan pupus tidak menemukan bentuk terbaiknya.

Bakat adalah potensi. Seperti halnya nasib, potensi adalah salah satu misteri kehidupan manusia. Tidak ada garansi orang yang sangat berbakat bagaimanapun pasti akan sukses di bidang tersebut. Seperti juga tidak ada garansi bahwa orang yang sangat bodohnya dalam suatu bidang, maka ia pasti tidak sukses di bidang tersebut. Namun, adalah hal yang sangat bijak apabila yang dikembangkan dari seorang anak adalah yang memang sudah menjadi potensi yang ada di dalam dirinya. Continue reading

Matematika Bukan Satu-satunya Ukuran Kecerdasan (2)

Matematika adalah salah satu kecerdasan di antara beberapa jenis kecerdasan yang lain. Matematika berada sama tinggi dengan jenis kecerdasan yang lain. Seperti halnya jenis kecerdasan yang lain, matematika juga bisa dilatih dan dipelajari. Belajar matematika bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik konvensional di sekolah maupun online di rumah.

Apapun jenis kecerdasan yang menonjol pada diri seorang anak, maka jenis kecerdasan itulah yang memiliki potensi terbesar dan terbaik untuk dikembangkan. Menurut Gardner, berikut penjelasan singkat tentang 9 kecerdasan yang diteorikannya: Continue reading

Matematika Bukan Satu-satunya Ukuran Kecerdasan (1)

Orang tua seringkali salah kaprah dalam memandang kecerdasan seorang anak. Anak yang tidak pintar matematika dicap sebagai anak yang tidak cerdas. Yang lebih tepat adalah, anak yang pintar matematika maka dia seharusnya dikategorisasikan sebagai anak yang cerdas matematika dan logika. Sementara mereka yang mampu menguasai bahasa dengan cepat dan baik, seharusnya mereka dicap sebagai anak yang cerdas juga, yaitu cerdas berbahasa. Continue reading

Asal Usul Matematika

Dari mana Matematika berasal? Pertanyaan ini diajukan oleh dua kutub ekstrem manusia, yang suka maupun benci kepadanya.

Golongan yang benci akan bertanya, “Dari mana matematika berasal? Mengapa ia harus ada?” Golongan yang suka akan bertanya, “Dari mana matematika berasal? Bagaimana ia bisa lebih bermanfaat lagi untuk kehidupan?” Continue reading

Matematika Tidak Hanya Berhitung

Jamak orang menganggap matematika adalah pelajaran berhitung. Mereka mengira bahwa seseorang dikatakan pintar matematika apabila ia mampu menghitung dengan cepat dan tepat tanpa menggunakan alat bantu apapun, termasuk kalkulator dan komputer. Memang ada benarnya. Namun pernyataan itu hanya benar sebagian kecil, tapi justru salah sebagian besarnya. Payahnya, justru pernyataan yang kurang benar tersebut sudah menjadi opini umum yang telah berkembang di ranah publik secara salah kaprah. Hal ini bisa terjadi akibat pelajaran ini diajarkan di sekolah-sekolah hanya sampai pada domain berhitung. Continue reading

You might also likeclose